Di Sumba, kuda bukan sekadar hewan ternak.
Dalam kepercayaan Marapu, sistem kepercayaan leluhur yang sudah hidup di Sumba jauh sebelum agama besar datang, kuda adalah kendaraan jiwa. Bukan secara praktik dimakamkan bersamaan dengan tuannya; yang benar-benar terjadi adalah roh kuda yang dipersembahkan menjadi tunggangan di Prai Marapu.
Ketika seorang bangsawan wafat, rohnya dipercaya harus menempuh perjalanan panjang menuju Prai Marapu, yang berarti negeri leluhur, surga abadi dalam kosmologi Sumba. Dan dalam perjalanan itu ia tidak boleh pergi sendiri.
Kuda yang disembelih harus milik almarhum sendiri, tidak boleh dipinjam atau diambil dari orang lain. Karena di alam leluhur, hanya kuda yang sudah mengenal tuannya yang bisa menjadi pengantar yang setia.
Tradisi setelah meninggalnya seseorang akan disusul oleh persembahan kuda yang disembelih dalam tradisi. Hal tersebut merupakan pernyataan bahwa ikatan yang dibangun sepanjang hidup, di ladang, di Pasola, di setiap perjalanan berbatu, tidak berakhir saat nyawa pergi.
Dalam bahasa adat Sumba, ketika seorang bangsawan laki-laki wafat, ungkapannya adalah "Na Njorunyaka Njara, Na mbatanyaka Landu". Artinya: jatuh dari kuda, patah jambul di kepalanya.
Hari ini mayoritas masyarakat Sumba menganut agama Kristen dan Katolik. Namun tradisi Marapu ini tidak hilang. Ia berjalan berdampingan, melampaui batas keyakinan formal, karena sudah terlalu dalam mengakar dalam jiwa orang Sumba.
Tidak banyak budaya di dunia yang punya hubungan seperti ini dengan seekor hewan. Sumba adalah salah satunya. Itu bukan hal yang biasa; itu warisan yang luar biasa.



