13 juta gulden, sekitar Rp1,074 triliun hari ini. Itu bukan angka yang datang dari pajak rakyat, melainkan uang pribadi seorang raja. Namanya Sultan Syarif Kasim II, raja ke-12 Kesultanan Siak Sri Inderapura, Riau. Beberapa bulan setelah proklamasi 17 Agustus 1945, ia mengirim telegram ke Presiden Sukarno. Isinya: Kesultanan Siak berdiri di belakang Republik Indonesia, dan ia menyerahkan seluruhnya.
Bukan hanya uang. Mahkota berlian kesultanan, pedang kebesaran, perhiasan, dan seluruh wilayah kerajaan dari Sumatera Timur, Deli, Serdang, hingga pesisir Riau yang ladang minyaknya dikerjakan bersama perusahaan Amerika. Semuanya diserahkan ke negara yang baru berumur hitungan bulan.
Sultan Syarif Kasim II adalah donatur terbesar di antara seluruh kerajaan Nusantara saat itu. Setelah semua itu diberikan kepada Indonesia, ia menghilang dari istananya. Ia pergi ke Aceh, bergabung dengan Resimen Rencong sebagai kolonel, bukan sebagai raja, tapi sebagai prajurit biasa. Ia ikut menyumbang untuk membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah, pesawat angkut pertama milik Indonesia.
Ia wafat 23 April 1968, bukan di istana, tapi di Rumbai, Pekanbaru. Sebagai warga biasa.
Hari ini namanya tertulis di bandara internasional dan universitas negeri di Pekanbaru.



