Menurut para tetua adat Waerebo, Compang, batu altar di tengah rumah adat Waerebo, sudah berdiri lebih dari 1.000 tahun, jauh sebelum Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Ini penanda bahwa leluhur masyarakat Waerebo sudah menghuni lembah pegunungan ini sejak lebih dari satu milenium lalu. Setiap ritual besar dimulai dan diakhiri di sini. Setiap doa untuk leluhur dipanjatkan di sini. Compang adalah jantung dari seluruh kehidupan adat yang masih berdenyut sampai hari ini.
Lalu bagaimana dengan 7 rumah kerucut ikonik yang sering kamu lihat di foto?
Rumah yang disebut Mbaru Niang itu mulai dibangun pada era 1920-an. Bukan karena masyarakatnya baru ada, tapi karena rumah adat Manggarai memang dibangun ulang secara berkala mengikuti siklus adat. Bangunan boleh berganti. Rohnya justru ada pada Compang itu.
Inilah yang membuat Waerebo bukan sekadar "desa tua". Bukan soal usia bangunannya, tapi soal kesinambungan hidup yang tidak pernah putus selama lebih dari 1.000 tahun. UNESCO menyadari ini: pada 2012, Waerebo menerima penghargaan tertinggi untuk konservasi warisan budaya Asia Pasifik.



